Rabu, 12 Juni 2013







A.    Struktur Organisasi Bimbingan Konseling
Struktur organisasi bimbingan konseling pada setiap satuan pendidikan tidak mesti sama. Masing-masing disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan yang bersangkutan. Meskipun demikian, struktur organisasi pada setiap satuan pendidikan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·         Menyeluruh, mencakup unsur-unsur penting yang terlibat di dalam sebuah satuan pendidikan yang ditujukan bagi optimalnya bimbingan konseling.
·         Sederhana, dalam pengambilan keputusan/kebijakasanaan, jarak antara pengambil kebijakan dan pelaksananya tidak terlampau panjang.
·         Luwes dan terbuka, sehingga mudah menerima masukan dan upaya pengembangan yang beguna bagi pelaksanaan dan tugas-tugas organisasi, yang semuanya itu bermuara pada kepentingan seluruh peserta didik.
·         Menjamin berlangsungnya kerjasama, sehingga semua umur bisa saling menunjang dan semua upaya serta sumber dapat dikoordinasikan demi kelancaran dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling.
·         Menjamin terlaksananya pengawasan, penilaian dan upaya tindak lanjut, sehingga perencanaan pelaksanaan dan penilaian program bimbingan dan konseling yang berkualitas dapat terus dilakukan.
Struktur atau pola BK di sekolah adalah sebagai berikut:

a)      KANDEPDIKNAS
b)      KEPALA SEKOLAH DAN WAKASEK
c)      KOORDINATOR BK DAN KONSELOR SEKOLAH
d)      GURU MATA PELAJARAN
e)      WALI KELAS
f)      SISWA
g)      TATA USAHA
h)      KOMITE SEKOLAH
Keterangan:
·         Kandepdiknas, adalah personil yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan BK di sekolah. Dalam hal ini pengawas sebagaimana dimaksudkan dalam petunjuk pelaksanaan BK di sekolah.
·         Kepala Sekolah ( bersama Wakasek) adalah penanggung jawab pendidikan pada satuan pendidikan ( SLTP , SMA SMK) secara keseluruhan, termasuk penanggung jawab dalam membuat kebijakan pelaksanaan pelayanan BK.
·         Koordinator BK ( bersama konselor sekolah) adalah pelaksana utama pelayanan BK
·         Guru ( Mata pelajaran atau praktik), adalah pelaksana pengajaran dan praktik / latihan
·         Wali kelas, adalah guru yang ditugasi secara khusus untuk mengurusi pembinaan dan adminstrasi ( seperti nilai rapor, kenaikan kelas, kehadiran siswa) satu kelas tertentu.
·         Siswa, adalah peserta didik yang menerima pelayanan pengajaran, praktik / latihan, dan bimbingan di SLTP, SMA, dan SMK.
·         Tata Usaha, adalah pembantu Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan administrasi dan ketatausahaan.
·         Komite Sekolah, adalah organisasi yang terdiri dari unsur sekolah, orang tua dan tokoh masyarakat, yang berperan membantu penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan.

B.        Pola-pola dasar pelaksanaan bimbingan dan konseling
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di institusi pendidikan muncul empat pola dasar yaitu :
1.      Pola Generalis, bahwa corak pendidikan dalam suatu institusi pendidikan berpengaruh terhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing siswa.
2.      Pola Spesialis, bahwa pelayanan bimbingan di institusi pendidikan harus ditangani oleh ahli-ahli bimbingan yang masing-masing berkemampuan khusus dalam cara pelayanan bimbingan tertentu, seperti bimbingan karir,bimbinan konseling.
3.      Pola Kurikuler, bahwa kegiatan bimbingan di institusi pendidikan diusulkan dalam kurikulum pengajaran dalam bentuk pengajaran khusus dalam rangka suatu kursus bimbingan. Pola ini mempunyai segi positif yaitu terlibat hubungan langsung dalam seluk beluk pengajaran, sedangkan segi negatifnya adalah kemajuan dalam pemahaman diri dan perkembangan kepribadian tidak dapat diukur melalui suatu tes hasil belajar.
4.      Pola Relasi-Relasi Manusia dan Kesehatan Mental, bahwa orang akan hidup lebih bahagia bila menjaga kesehatan mentalnya dan membina hubungan baik dengan orang lain.




C.        Tugas dan Tanggung Jawab Personil Sekolah dalam Program Bimbingan Konseling
Secara operasional, pelaksana utama layanan bimbingan konseling di sekolah adalah konselor sekolah atau guru pembimbing dibawah koordinasi seorang coordinator bimbingan konseling. Namun, bimbingan konseling di sekolah dalam penyelenggaraannya akan melibatkan personil sekolah lainnya. Personil yang dimaksud mencakup:
1.      Kepala sekolah, sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di sekolah, tugasnya antara lain:
-          Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan
-          Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan konseling di sekolah
-          Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan konseling di sekolah
-          Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah
2.      Wakil kepala sekolah, bertugas membantu kepala sekolah, yakni:
-          Mengkoordinasikan pelaksanaan layanan bimbingan konseling kepada semua personil sekolah
-          Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling
-          Melaksanakan layanan bimbingan konseling terhadap minimal 75 siswa, bagi wakil kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan bimbingan konseling
3.      Koordinator guru pembimbing, tugas:
-          Menkoordinasikan para guru pembimbing
-          Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana dan prasarana
-          Mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah
4.      Konselor, tugasnya antara lain:
-          Memasyarakatkan kegiatan bimbingan konseling
-          Merencanakan program bimbingan konseling
-          Melaksanakan persiapan kegiatan bimbingan konseling
-          Melaksanakan layanan pada berbagai bidang
5.      Guru mata pelajaran, bertugas antara lain:
-          Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan konseling terhadap siswa
-          Melakukan kerjasama dengan konselor dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan bimbingan konseling
-          Mengalihtangankan siswa yang memerlukan bimbingan kepada konselor, dst
6.      Wali kelas, sebagai mitra kerja konselor, tugasnya antara lain:
-          Membantu konselor melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya
-          Ikut serta dalam konferensi kasus
-          Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu diperhatikan khusus, dsb
7.      Staf tata usaha, personil yang bertugas antara lain:
-          Membantu konselor dan coordinator dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan konseling di sekolah
-          Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan konseling
-          Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan konseling
D.          Peranan Guru dalam Pelayanan Bimbingan Konseling
Dalam kedudukannya sebagai personil pelaksana proses pembelajaran di sekolah, guru memiliki posisi yang strategis dibandingkan dengan guru pembimbing atau konselor. Guru dapat mengamati secara rutin tentang perkembangan kepribadian siswa, kemajuan belajarnya dan bukan tidak mungkin akan langsung berhadapan dengan permasalahan siswa. Beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh seorang guru ketika ia diminta mengambil bagian dalam penyelenggaraan bimbingan konseling di sekolah, sebagai berikut:
Ø  Guru sebagai informator, menginformasikan berbagai hal tentang layanan bimbingan konseling, tujuan, fungsi dan manfaatnya bagi siswa
Ø  Guru sebagi fasilitator, ketika dilangsungkan layanan pembelajaran baik yang bersifat preventif maupun kuratif
Ø  Guru sebagai mediator, sebagai mediator antara siswa dengan konselor
Ø  Guru sebagai motivator, memberikan motivasi pada siswa dalam memanfaatkan layanan bimbingan konseling di sekolah
Ø  Guru sebagai kolaborator, sebagai mitra seprofesi yakni sama-sama sebagai tenaga pendidik di sekolah, guru juga sebagai kolaborator.

satuan layanan


SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING


a.       Topik Permasalahan                :           Cara Mengatasi Masalah Belajar
b.      Tugas Perkembangan              :           siswa dapat belajar dengan giat dan semangat lagi
dalam mencapai kesuksesan
c.       Bidang Bimbingan                  :           Bimbingan Sosial
d.      Jenis Layanan                          :           Orientasi
e.       Fungsi Layanan                       :           Pemahaman dan Pengentasan
f.       Tujuan Layanan                      :           1. Siswa dapat memahami bagaimana cara
    mengatasi malas belajar
                                                             2. siswa dapat menggali kemampuan dalam bidang
                                                                 masing-masing
                                                             3. siswa dapat berprestasi
g.  Sasaran Layanan                      :           Kelas  1 SLTP
h.  Uraian Kegiatan                       :           1. Guru memberikan penjelasan tentang pengertian                                belajar ,manfaat belajar dan cara mengatasi                                 malas belajar
2. Siswa diberikan arahan-arahan, Agar siswa dapat tau,betapa pentingya ilmu pendidikan.
      i.  Metode                                      :           ceramah, diskusi dan Tanya jawab
      j. Tempat Penyelenggaraan           :           Ruang Kelas 1
      k.  Waktu Penyelenggaraan          :           45 menit
      l.  Penyelenggara Layanan            :           Guru BK
      m. Pihak yang disertakan              :           Siswa, Guru, dan wali siswa
      n.  Alat Perlengkapan                    :           invocus, papan tulis dan spidol
      o. Rencana Penilaian dan tindak Lanjut layanan adalah para siswa asuh dapat memahami apa                 yang di sampaikan oleh penyelengaara layanan

o     Laiseg :  peserta didik memahami pengertian  belajar, manfaat belajar, cara                                        mengatasi malas belajar dan siswa merasa senang mendapatkan                                                informasi yang baru.
o   Laijapen: para peserta siswa asuh dapat menikmati orientasi ini dengan baik dan                                tidak bosan
o   Laijapang: siswa asuh dapat menjalankan apa yang telah mereka dapatkan tentang                               belajar
                                                               
P. Keterkaitan layanan ini             :           Tampilan kepustakaan, Himpunan data dengan         kegiatan Pendukung
q. Catatan Khusus                         :           siswa asuh dapat lebih berfikir positif dengan            belajar dan bisa mengatasi cara malas belajar


            Mengetahui ,                                                                Bengkulu,    03 April 2013
          Kepala Sekolah                                                                          Guru BK



          Isti kusairi M.pd                                                                   Ria Alen Seftina




Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan dan ilmu kepada kami untuk menyelesaikan makalah Satuan Layanan ini. Tanpa-Nya kami tidak bisa menyelesaikan makalh layanan BK 1 tentang “Cara Mengatasi Malas Belajar”
            Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan pengertian belajar, manfaat belajar dan cara mengatasi malas belajar.
            Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini, dan dosen yang tidak henti-hentinya memberikan kami ilmu yaitu bapak Drs. Syariman , M.pd.
            Kritik dan saran sangat kami perlukan untuyk perbaikan lebih lanjutnya, seperti pepatah mengatakan ‘ tak ada gading yang tak retak’.







Bengkulu,   April 2013


Penulis





Daftar isi
Kata pengantar    ........................................................................... i
Daftar isi              .......................................................................... .ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................1
A.   LATAR BELAKANG MASALAH...................................1
B.   RUMUSAN MASALAH...................................................1
C.   TUJUAN............................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................2
1.     PENGERTIAN  BELAJAR................................................2
2.     MANFAAT BELAJAR……..............................................2
3.     CARA MENGATASI MALAS BELAJAR.......................3
BAB III PENUTUP............................................................................




BAB I
PENDAHULUAN
a.     Latar Belakang

Belajar merupakan kegiatan esensial dalam pengajaran, juga terkait dengan berbagai faktor yang dapat memberikan perubahan pada siswa. Faktor siswa, guru serta faktor lingkungan secara menyeluruh merupakan faktor-faktor yang berpengaruh. Menurut T. Raka Joni (1981) bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh matangnya seseorang atau perubahan yang bersifat temporer. 




b.    Rumusan masalah
Dari beberapa uraian diatas, dapat kita ambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan belajar?
2.      Apa saja manfaat belajar?
3.      Bagaimana cara mengatasi malas belajar?


c.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian belajar .
2.      Untuk mengetahui manfaat belajar .
3.      Untuk mengetahui bagaiman cara mengatasi malas belajar.




BAB II
PEMBAHASAN

1.1  Pengertian Belajar

Mendengar kata belajar mungkin sudah tidak terasa asing lagi di telinga semua orang yang hamper membuat kebanyakan orang menjadi “ALERGI” untuk mendengarnya. Karena yang terbayang dibenak semua orang adalah setumpuk buku-buku yang ada di hadapan mereka untuk dibaca dan dipelajari semuanya, yang akan menjadi membosankan. Kenapa orang-orang trsebut merasa bosan dengian orang-orang tersebut yang berasumsi bahwa mereka sudah lama lulus sekolah, jadi untuk apa belajar. Orang seperti itu berfikir demikian karena mereka tidak melihat atupun belum menikmati manfaat dahsyat dari kegiatn “belajar”.
Dalam dunia usaha kata belajar itu sangat menjadi keharusan. Tanpa belajar, pelaku usaha akan terasa bahwa usahanya akan jauh tertinggal dan tersingkirkan dari persaingan, karena dengan belajar menumbuhkan inovasi, inovasi melahirkan perubahan positif yang diperlukan dalam usaha. Belajar juga harus membutuhkan waktu yang sangat cepat, bahkan lebih cepat dari pesaing-pesaing, agar usaha yang dijalankan berjalan dengan pesat.
Belajar merupakan kegiatan esensial dalam pengajaran, juga terkait dengan berbagai faktor yang dapat memberikan perubahan pada siswa. Faktor siswa, guru serta faktor lingkungan secara menyeluruh merupakan faktor-faktor yang berpengaruh. Menurut T. Raka Joni (1981) bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh matangnya seseorang atau perubahan yang bersifat temporer. 
    
1.2  Manfaat Belajar
Manfaat belajar diantaranya adalah :
o   Dengan belajar dapat menumbuhkan kebiasaan pada diri orang tersebut.
o   Dengan belajar dapat menumbuhkan motifasi pada diri orang tersebut dan dapat menjadikan seseorang sukses.
o   Dengan belajar akan menambah banyak ilmu pengetahuan.
o   Dapat menjadi orang yang diperlukan bagi lingkungan kita.
o   Dapat menambah keterampilan pada diri kita.
Dengan belajar inilah akam menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula. Prinsip dari belajar itu sendiri adalah komitmen. Komitmen secara fisik, mental dan emosional. Komitmen fisik itu adalah menyediakan waktu khusus untuk belajar, terlibat scara fisk dalam mencari bahan-bahan yang harus dipelajari, ataupun mencatat hal-hal penting yang didapat dalam belajar. Komitmen secara mental memprose informasi yang didapatkan(bukan skedar mendengar informasi selintas dengan dari kuping kiri ke kuping kanan saja). Komitmen secara emosional adalah dengan menerapkan rasa “senang” dan “suka” dalam belajar pelajaran maupun sesulit apapun.

1.3  Cara Mengatasi Malas Belajar
Hampir sebagian orang jika melakukan kegiatan belajar, pembawaannya berat dan malas sekali. Perasaan malas mungkin sering kali hinggap ketika hendak melakukan kegiatan belajar. Bahkan jika disuruh memilih tentunya kita ingin segera menghindari kegiatan belajar dan lebih tertarik melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan seperti bermain, jalan-jalan dan bercanda. Kegiatan belajar mungkin merupakan aktifitas yang paling tidak diminati.
Apabila permasalahan malas belajar terus berlanjut, maka akan berakibat fatal bagi perkembangan diri kita. Kita bisa menjadi tidak cakap dalam berbagai hal, terutama hasil belajar dan bisa terancam mengalami kegagalan dalam menempuh studi. Permasalahan malas belajar harus diatasi. Inti mengatasi malas belajar adalah bagaimana membuat proses belajar dapat mendatangkan cita rasa manfaat dan kegunaan utama yang dapat langsung merangsang, menantang dan memuaskan kita.
Ada beberapa langkah-langkah untuk mengatasi malas belajar, yaitu:
1.      Berani membangun mimpi
Bila ingin menjadi orang sukses dan orang besar, kita harus mampu membangun mimpi atau cita-cita atau harapan besar yang akan diraih di kemudian hari. Dengan adanya mimpi dan cita-cita yang tertanam, tentu kita akan memusatkan perhatian pada cara-cara mencapai mimpi tersebut. Dengan kata lain, akan memotivasi diri kita untuk melakukan proses belajar untuk meraih mimpi tersebut. Kita juga akan terpacu mencari cara mengatasi rintangan yang menghambat meraih mimpi kita.
2.      Keinginan untuk memiliki nilai plus
Memiliki kelebihan atau kepandaian melebihi teman-teman tentu suatu kebanggan. Untuk itu, kita dituntut untuk belajar lebih giat lagi untuk mengungguli teman-teman. Kita harus mampu mencari cara belajar yang baik untuk memudahkan penguasaan pelajaran. Tugas kita adalah mencari jurus pamungkas yang jitu untuk menelan pelajaran dengan efektif.
3.      Memiliki rasa percaya diri
Rasa percaya diri adalah sumber energi yang besar untuk terus memusatkan perhatian pada pelajaran. Kita perlu menanamkan keyakinan mampu mempelajari dan mengerjakan bagaimana sulitnya pelajaran yang dihadapi. Keyakinan dalam hati akan membuat diri kita bekerja keras untuk mewujudkan keyakinan kita. Rasa optimis dan berpikir positif wajib ditumbuhkan dalam hati sanubari kita.
4.      Antusias dan cinta pada pelajaran
Dalam belajar dibutuhkan perasaan yang kuat dan teguh untuk mendorong diri sendiri melakukan kegiatan belajar. Untuk membangkitkan minat dan perhatian pada pelajaran secara terarah, maka kita bisa mempergunakan perangsang seperti untuk apa kita belajar ini? Dan bagaimana cara mempelajarinya?. Pertanyaan tersebut berarti kita berusaha untuk menggiring dan memfokuskan perhatian secara terarah pada tujuan untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Dengan mengembangkan perhatian secara terpusat, bisa membangkitkan minat belajar dan merasa tertantang untuk mempelajari pelajaran lebih lanjut. Timbulnya minat dan berkembangnya keinginan untuk menguasai kecakapan tertentu dari hasil proses belajar tentu menjadi motif yang cukup kuat bagi kita untuk memotivasi diri melakukan pembelajaran.
5.      Menentukan target pencapaian tingkat prestasi jangka pendek maupun panjang
Untuk mendorong giat dan focus belajar, sebaiknya kita membuat rencana tahapan pencapaian tujuan belajar. Misalnya, setiap belajar harus mampu menguasai dan mempraktikkan pengetahuan yang dipelajari. Dengan menentukan target tujuan prestasi secara bertahap semakin jelas bagi kita mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan belajar terarah. Selain itu, adanya target tujuan prestasi belajar akan member sugesti, memotivasi, merangsang, dan menantang kita untuk giat belajar.
6.      Belajar aktif
Kita harus dapat belajar aktif dan terarah untuk menghilangkan kejemuan atau kemalasan dalam belajar. Kita harus dapat terlibat aktif secara kognitif, afektif dan psikomotor dalam belajar. Musuh terbesar dalam belajar adalah ketidakmampuan kita untuk konsentrasi belajar. Untuk mengatasi hal itu, kita mutlak harus bisa belajar aktif. Belajar aktif maksudnya mengarahkan, menggerakkan, dan mengendalikan proses penalaran, sikap dan tindakan pada suatu tujuan penelaahan materi pelajaran secara kritis. Cara belajar aktif antara lain aktif bertanya secara detail hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan materi pelajaran kepada guru dan orang tua, dan aktif berbuat/ mempraktikkan materi pelajaran yang dipelajari
7.      Mengatur waktu belajar yang efektif
Apabila ingin sukses belajar, maka kita harus mampu mengatur belajar yang efektif. Untuk mengatur waktu belajar yang efektif, maka perlu diperhitungkan, antara lain disesuaikan dengan keinginan belajar sendiri, jangan berbenturan dengan keinginan-keinginan lain yang lebih dominan seperti nonton film, dan perhatikan kondisi fisik dan psikis harus dalam kondisi siap belajar atau keadaan segar bebas dari rasa lelah, mengantuk, rasa lapar, gangguan penyakit, dan rasa marah.
8.      Menyiapkan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar
Suasana lingkungan dimana kita belajar sangat berpengaruh terhadap aspek psikis kita yang hendak melakukan belajar. Suasana lingkungan yang buruk dapat membuat kita tidak produktif untuk belajar karena kita merasa tidak nyaman dan aman untuk belajar.  Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan kondisi lingkungan dimana kita belajar. Kita harus mendapatkan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar. Untuk itu, kita perlu benahi, menata dan membina; suasana harus nyaman dan aman, bebas dari suara berisik, ruangan belajar harus tertata rapi, menjaga keharmonisan hubungan antaranggota keluarga, dan menciptakan nuansa kebersamaan dan keceriaan dalam keluarga.
9.      Mengembangkan kualitas pergaulan
Kita harus mampu mengembangkan kualitas pergaulan agar memberi kontribusi perkembangan diri pribadi pada arah yang positif. Untuk menentukan kualitas pergaulan dan kegiatan dalam pergaulan, maka kita harus menentukan antara lain; mutu kegiatan yang bagaimana yang pantas dikembangkan dan bagaimana kita membagi waktu antara belajar dengan bergaul. Agar kita mampu bergaul dengan baik, maka harus mampu mengembangkan kelebihan-kelebihan khusus yang member citra pada diri kita. Kelebihan tersebut bisa bersumber dari bakat, hobi maupun kreatifitas. Dengan kelebihan tersebut kita akan mendapat tempat khusus dan dijadikan simbol, panutan dan pemimpin dalam kelompok. Selain itu, juga untuk member pengaruh, mengarahkan, dan mengendalikan arah pergaulan teman kita